PERANAN TEKNOLOGI PANGAN DAN KAITANNYA TERHADAP PEMBANGUNAN EKONOMI DALAM SEKTOR PERTANIAN

PERANAN TEKNOLOGI PANGAN DAN KAITANNYA TERHADAP PEMBANGUNAN EKONOMI DALAM SEKTOR PERTANIAN

Pembangunan merupakan proses perubahan ke arah yang lebih baik dalam berbagai aspek. Aspek ekonomi, sosial, politik, budaya dan aspek lainnya yang mempengaruhi kehidupan masyarakat luas, harus dipertimbangkan dengan baik. Dari sudut pandang ekonomi, pembangunan bisa diartikan sebagai upaya mencapai tingkat pertumbuhan pendapatan perkapita (income per capital) yang berkelanjutan agar negara dapat memperbanyak output yang lebih cepat dibandingkan laju pertumbuhan penduduk (Todaro dan Smith,2011:16). Sedangkan pada pembangunan ekonomi daerah adalah proses di mana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumber daya yang ada, dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru untuk merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut. (Arsyad, 2009) 

 

Pembangunan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pembangunan daerah. Karena pembangunan daerah merupakan bagian yang integral dalam upaya mencapai sasaran nasional di daerah sesuai potensi, aspirasi dan prioritas pembangunan masyarakat daerah. Sasaran pembangunan akan terwujud apabila pemerintah daerah mengetahui potensi daerah dan merumuskan strategi kebijakan dalam perencanaan pembangunan untuk pengembangan sektor perekonomian.

 

Berdasarkan bukti empirik yang disajikan dalam buku Mellor, maka tidak ada alasan untuk menolak pertanian sebagai sektor andalan perekonomian nasional negara berkembang. Namun demikian, keberhasilan sektor pertanian sebagai andalan perekonomian nasional amat tergantung pada kebijaksanaan ekonomi makro pemerintah, pengembangan teknologi pertanian, pengembangan usaha kecil dan menengah di pedesaan (Hal 325). 

 

Secara rinci beberapa kasus di negara berkembang yang menjadikan pertanian sebagai sektor andalan menunjukkan adanya ketetkaitan antar sektor pertanian dengan sektor nonpertanian seperti kasus Costa Rica (Celes dan Lizano, hal 243); Colombia (Berry, hal 263); Kenya (Bigsten dan Collier, hal 196); Argentina (Mundlak dan Donenech, hal 175); dan India (Bhalla, hal 67). Selain mampu mendorong pertumbuhan sektor non-pertanian, penempatan pertanian sebagai sektor andalan perekonomian nasional negara betkembang memberikan manfaat sebagai berikut: mengurangi laju urbanisasi, mengurangi kesenjangan antarlapisan masyarakat (Mao dan Schive, hal 53), meningkatkan pendapatan dan mengurangi kemiskinan (Siamwalla, hal168).

 

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor ekonomi yang berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi. Pertanian dapat bekerjasama secara harmonis dengan sektor- sektor lain untuk menghasilkan pertumbuhan yang lebih cepat, mengurangi kemiskinan, dan melestarikan lingkungan. Dunia pertanian berkontribusi pada pembangunan sebagai sebuah aktivitas ekonomi, sebagai mata pencaharian dan sebagai cara untuk melestarikan lingkungan, sehingga menjadikan sektor ini sebuah instrumen unik bagi pembangunan (Grup Bank Dunia, 2008).

 

Kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional Indonesia semakin nyata. Selama periode 2010-2014, rata-rata kontribusi sektor pertanian terhadap PDB mencapai 10,26% dengan pertumbuhan sekitar 3,90. Pada periode yang sama, sektor pertanian menyerap angkatan kerja terbesar walaupun ada kecenderungan menurun. Pada tahun 2014 sektor pertanian menyerap sekitar 35,76 juta atau sekitar 30,2% dari total tenaga kerja (Kementerian Pertanian, 2015).

 

Pengertian komoditas secara umum adalah suatu produk barang yang bisa diperjual belikan guna mendapatkan keuntungan atau ditukarkan dengan barang lain yang nilainya sama. Para ahli mengatakan bahwa pengertian komoditas adalah sebuah benda berwujud yang cenderung mudah untuk diperjualbelikan, mampu diserahkan wujudnya, bisa disimpan dalam kurun waktu tertentu, dan juga bisa ditukarkan dengan produk lain yang jenisnya sama, yang bisa diperjualbelikan oleh pemegang saham dalam bursa berjangka.

 

Dilansir dari laman Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, komoditas adalah barang dagangan utama, benda niaga mentah yang bisa dikategorikan berdasarkan kualitasnya sesuai dengan standar internasional. Jadi, pengertian komoditas adalah sebuah barang perdagangan utama dan benda niaga lainnya yang mampu diperjual belikan sebagai produk impor atau ekspor untuk mendapatkan keuntungan.

 

Komoditas berasal dari bahasa asing, yaitu bahasa Inggris commodity yang secara etimologis diserap dari bahasa Perancis, yaitu commodite yang artinya adalah suatu yang memberikan kesenangan dalam layanan dan juga kualitasnya. Istilah ini digunakan dan dikenal oleh masyarakat luas pada abad ke 15 di Inggris, yang mana kata tersebut menunjukan suatu metode untuk mengukur sesuatu secara tepat, contohnya adalah mengukur kondisi atau keadaan, mengukur keuntungan, kualitas, atau mengukur kemampuan dalam menghasilkan sesuatu.

 

Pengertian komoditas pertanian adalah berbagai produk hasil pertanian yang di dalamnya terbagi menjadi dua, yaitu hasil pertanian dan juga hasil perhutanan. Komoditas pertanian meliputi gandum, kedelai, jagung, beras, gula, kopi, garam, dll. Sedangkan untuk komoditas perhutanan meliputi sawit, kapas, rotan, karet, dll. Berbagai produk tersebut diperjualbelikan dengan aturan yang beragam, bisa ton, gantang, kilogram, atau ons.

 

Berikut adalah beberapa jenis komoditi pertanian, peternakan dan pertambangan serta perkiraan ketersediaan pangan nasional pada bulan Maret sampai dengan Mei 2020;

Tabel 1. Perkiraan Persediaan Pangan Nasional Triwulan II

 

            

 

Pada zaman yang terus berkembang, pertanian di Indonesia mendapatkan tantangan seperti menurunnya sumber-sumber air untuk kepentingan pertanian. Selanjutnya, konversi lahan yang tak terkendali dan lemahnya program peningkatan kompetensi para petani dan penyuluh serta pengembangan kelembagaan petani. 

 

Tantangan selanjutnya adalah terjadi pola deagrarianisai dalam kebijakan pembangunan nasional. Misalnya, kontribusi sektor perrtanian terhadap PDRB tidak digunakan untuk pembangunan sektor pertanian tetapi lebih banyak digunakan untuk sektor non pertanian. Setelah itu, masalah selanjutnya merupakan kebijakan nasional untuk pelestarian dan pengembangan plasma nufta yang menjadi ciri khas tanaman masing-masing wilayah belum signifikan sehinga banyak potensi lokal yang hilang. Tantangan lain adalah belum ada keseragaman data tentang persediaan beras atau pangan sehingga terjadi perbedaan dan menimbulkan perdebatan antara kementan, kemendag dan bulog. 

 

Saat ini ada sekitar 28 juta rumah tangga yang hidup dari pertanian. Artinya, kurang lebih ada 100 juta pendudk Indonesia yang bergantung dari hasil pertanian. Ditambah, pada 2030 penduduk Indonesia diprediksi akan meningkat menjadi 300 juta jiwa. Sedangkan orang yang mengerjakan pertanian terus berkurang lantaran dampak dari migrasi. Pada 2030, sekitar 70 persen penduduk Indonesia diperkirakan hidup di kota. Sementara itu, dari total jumlah petani yang ada di Indonesia, sekitar 57 persennya masih tergolong sebagai petani kecil. Petani kecil ini rata-rata hanya memiliki lahan kurang dari 0,5 hektare. 

 

Strategi Peningkatan Daya Saing pada Sektor Pertanian
Setidaknya beberapa langkah besar untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk pertanian Indonesia, antara lain:

  • Meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan petani. Di Indonesia, masih banyak petani yang berpotensi terkena dampak perdagangan bebas. Ketersediaan informasi dari data, pengembangan inovasi dan teknologi, serta perluasan jaringan pada pasar untuk petani merupakan hal yang perlu dilakukan
  • Memperbaiki kebijakan hukum yang berlaku. Sinkronisasi pada kebijakan ini perlu dilakukan agar setiap kementerian berjalan dengan tujuan yang sama walaupun memiliki langkah yang berbeda
  • Mengembangkan sektor komplemen pertanian (agroindustri, penyediaan kredit, teknologi melalui penyuluhan, dan pasar)
  • Mempelajari kebijakan-kebijakan dari negara lain. Hal ini perlu dilakukan karena daya saing tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan dihasilkan oleh resultane dari kebijaksanaan di dalam negeri dan kebijaksanaan dari negara-negara lain.

 

Dengan adanya persaingan global yang ketat, pembangunan pertanian yang terus digelorakan oleh pemerintah dan pihak- pihak penentu kebijakan lainnya di Indonesia harus memotivasi para petani untuk meningkatkan potensi produktivitas pertaniannya dengan mengedepankan aspek kualitas, kuantitas dan keberlanjutan. Petani di Indonesia pada masa era pasar global dan peningkatan teknologi pertanian setidaknya mempunyai posisi tawar yang lebih efektif dan efisien dalam mempertahankan usahataninya, sehingga tetap eksis menjalankan tugas utamanya sebagai produsen bahan pangan nasional, regional dan daerah. 

 

Petani dari segi pengetahuan sudah siap dengan adanya perkembangan teknologi pertanian dan akan berusaha meningkatkan keterampilannya dalam mengembangkan berbagai produksi pertanian untuk menghadapi pasar global. Petani dari segi ketersediaan sarana produksi pertanian yang tepat waktu, sasaran dan jumlah akan selalui siap menghadapi tantangan kemajuan teknologi pertanian dari segi budidaya dan penanganan pasca panen, sehingga dengan ketersediaan sarana produksi pertanian tersebut petani akan selalu berusahatani dengan baik. Pada sisi agroindustri petani akan lebih siap menghadapi era pasar global dengan mengadakan diversifikasi produksi pertanian yang akan berdampak pada pemenuhan bahan baku industry dan produksi makanan olahan serta bahan pangan lainnya. 

 

Dapat disimpulkan, petani Indonesia akan tetap siap beraktivitas dan maju dalam menghadapi tantangan pasar global dan kemajuan teknologi pertanian. Kesiapatan petani ini dapat diwujudkan melalui usaha pemerintah dalam mengintroduksi sistem agribisnis dan agroindustri serta pendidikan kepada petani dan keluarganya.

 

Pada akhirnya kesiapan, kemampuan dan motivasi petani melalui usaha agribisnis, agroindustri dan pendidikan petani dapat terwujud dengan baik serta berhasil dalam implementasinya, maka pemerintah dan petani tetap mengedepankan kerjasama dengan berbagai pihak terutama dunia perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian yang dapat membantu petani dalam menerima dan menerapkan inovasi-inovasi baru di bidang pertanian yang sudah melalui pengkajian dan penelitian dari berbagai ahli dibidangnya, sehingga tantangan pasar global dan kemajuan teknologi pertanian dapat diantisipasi arif dan bijaksana sesuai kemampuan dan kemandirian petani. 

 

 

Referensi       :

 

  1. Mohamad Ikbal Bahua. Mampukah Petani Bersaing Di Tengah Pasar Global Dan Teknologi Pertanian Yang Di Miliki Indonesia Saat Ini. 
  2. Wiwit Rahayu, Nuning Setyowati. Dinamika Peranan Sektor Pertanian
Dalam Pembangunan Ekonomi Di Kawasan Solo Raya
  3. https://supplychainindonesia.com/peningkatan-daya-saing-komoditas-pertanian/
  4. https://www.academia.edu/33491263/Daya_Saing_Pertanian.
  5. https://yudharta.ac.id/id/2020/04/panganvs-pandemik-covid-19/