Marsudi Wahyu Kisworo: Hanya 3% Anak Mau Jadi Petani, Mayoritas Incar Karir di BUMN

Jakarta, 8 Januari 2024 - Indonesia, dikenal sebagai negara dengan tanah yang sangat subur, kini dihadapkan pada tantangan serius dalam mencapai kedaulatan pangan. Marsudi Wahyu Kisworo, Komisaris ID FOOD, mengungkapkan bahwa setiap tahunnya jumlah petani di Indonesia terus berkurang, mencapai angka hingga 1 juta.

Jan 8, 2024 - 12:03
Jan 8, 2024 - 12:05
 0  29
Marsudi Wahyu Kisworo: Hanya 3% Anak Mau Jadi Petani, Mayoritas Incar Karir di BUMN
Sumber Foto : https://blogger.googleusercontent.com/

Masalah ini semakin diperparah dengan kenyataan bahwa hanya 3% dari anak-anak petani yang bersedia melanjutkan profesi pertanian. Mayoritas dari mereka lebih memilih untuk meniti karir sebagai pegawai BUMN. Kisworo menyebut hal ini sebagai problem besar, mengingat sumber daya manusia di sektor pertanian terus mengalami penurunan.

"Kita memiliki tantangan besar karena sumber daya manusia kita makin lama makin turun. Hanya 3% dari anak petani yang mau jadi petani, banyak yang tidak mau jadi petani, maunya jadi pegawai BUMN," ujarnya dalam acara perayaan 2 Tahun Kontribusi ID FOOD di Jakarta.

Selain penurunan jumlah petani, Indonesia juga kehilangan lahan pertanian setiap tahunnya, sekitar 100.000 hektare, yang dikonversi menjadi hunian, pabrik, dan lainnya. Indeks tanah subur untuk pertanian di Indonesia hanya mencapai 13,39%, menempatkannya pada peringkat 116 dari seluruh negara di dunia.

Lebih lanjut, Kisworo mengingatkan bahwa Indonesia memiliki rata-rata produktivitas pertanian rendah, hanya sekitar 5-6 ton per hektare. Dalam peringkat negara penghasil beras, Indonesia berada di peringkat 30 dari 42 negara.

Sumber Foto : https://statik.tempo.co/

Dalam mengatasi berbagai permasalahan ini, ID FOOD, sebagai BUMN pangan, berperan besar untuk membantu mencapai ketahanan pangan sebagai langkah awal menuju kedaulatan pangan. Kisworo menekankan bahwa permasalahan ini harus diatasi mulai dari hulu hingga hilir, mencakup aspek pertanian, logistik, distribusi, dan proses pemrosesan bahan pangan.

"Dulu ada Koes Plus kalau nyanyi katanya tongkat kayu dan dilempar itu jadi tanaman katanya, kolamnya aja kolam Ssusu begitu subur. Tapi faktanya apa kalau kita bicara pangan sebagian besar pangan kita impor? Jadi, apakah lagunya Koes Plus tadi bohong atau harapan palsu? Tapi itulah tantangan," tutup Kisworo.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow