Kapten Pierre Tendean : Pria Tampan yang Memikat, Sang Ajudan yang Diperebutkan oleh Tiga Jenderal Indonesia

Tanggal 21 Februari 1939, suara tangis bayi bernama Pierre Andries Tendean terdengar di rumah sakit Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ), Jakarta, yang kini dikenal sebagai RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo. Pierre adalah hasil dari pernikahan antara Maria Elizabeth Cornet, wanita keturunan Prancis dari Leiden, Belanda, dan Aurelius Lammert Tendean, seorang dokter spesialis jiwa asal Minahasa, Sulawesi Utara.

Sep 30, 2023 - 11:33
 0  39
Kapten Pierre Tendean : Pria Tampan yang Memikat, Sang Ajudan yang Diperebutkan oleh Tiga Jenderal Indonesia

Tanggal 21 Februari 1939, suara tangis bayi bernama Pierre Andries Tendean terdengar di rumah sakit Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ), Jakarta, yang kini dikenal sebagai RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo. Pierre adalah hasil dari pernikahan antara Maria Elizabeth Cornet, wanita keturunan Prancis dari Leiden, Belanda, dan Aurelius Lammert Tendean, seorang dokter spesialis jiwa asal Minahasa, Sulawesi Utara.

Keluarga Tendean menjalani hidup sederhana, dengan Dr. A.L. Tendean mengandalkan gaji dari pemerintah tanpa membuka praktek privat. Pada usia satu tahun, Pierre pindah bersama keluarganya ke Tasikmalaya, Jawa Barat, setelah ayahnya mendapatkan tugas baru di kota tersebut. Namun, tak lama setelah itu, Dr. A.L. Tendean harus dirawat di Sanatorium Rumah Sakit Cisarua karena jatuh sakit.

Pierre Andries Tendean menjadi bagian dari sejarah Indonesia ketika ia, pada usia 26 tahun, dijemput paksa oleh pasukan Cakrabirawa pada 1 Oktober 1965, dalam peristiwa G30S PKI. Pierre yang saat itu berada di rumah Jenderal Abdul Haris Nasution, menjadi saksi bisu dari pengorbanan dan ketegaran yang ada dalam peristiwa tersebut.

Masykuri, dalam bukunya "Pierre Tendean," menggambarkan Pierre sebagai sosok yang terlahir dari keluarga sederhana namun memiliki semangat pengabdian yang kuat. Buku ini diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional pada tahun 1983/1984.

Kisah hidup Pierre Andries Tendean adalah sebuah cerminan pengabdian dan keberanian yang tak terlupakan. Meskipun terlahir dari keadaan sederhana, semangat dan pengorbanannya untuk bangsa Indonesia tetap menjadi inspirasi dan kenangan yang abadi di hati rakyat Indonesia.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow